Wednesday, 1 April 2015

JIKA NASI SUDAH MENJADI BUBUR?

Suatu waktu. Tercipta satu percakapan antara dua remaja, yang salah satunya gelisah dan galau karena menaruh hati pada seorang lawan jenis yang mengabaikan dirinya...
Sahabat : Jika kamu tahu mencintainya itu sakit, kenapa kamu masih mempertahankan rasamu?
Galau'er : (membela diri) Jika kamu tahu kamu akan mati, kenapa kamu tetap bernafas?
Sahabat : Setidaknya bernafas tidak membuatku sakit hati, aku masih bisa tertawa, masih bisa menciptakan senyum untuk orang tuaku, masih bisa bekerja, dan masih bisa bersikap ramah pada orang lainnya.. Sedangkan kamu. Lihat dirimu...
Galau'er : (Terdiam sejenak) Kawan, tolong katakan apa yang berubah dalam diriku.
Sahabat : Kamu... Kamu menolak saran orang dan bersikap apatis pada kepedulian mereka. Kamu selalu berwajah murung dan mengacaukan mood orang-orang di dekatmu. Kamu terlalu sensitif dan marah-marah pada lingkungan, termasuk pada keluargamu. Dan yang terburuk, kamu berusaha membenarkan kebodohanmu itu dengan mengupdate status, mempublish tangisan, dan meminta belas kasihan orang yang sama bodohnya dengan kamu.
Galau'er : Lalu, apa yang harus aku lakukan? Nasi sudah menjadi bubur. Aku terlanjur jatuh cinta padanya.
Sahabat : Jika memang nasi sudah menjadi bubur, kenapa kamu tidak berpikir untuk menambahkan berbagai macam bumbu agar rasanya lebih enak dari nasi? Kenapa kamu masih menelan bubur mentah yang selalu membuatmu mual dan muntah tiap kali menelannya?
Galau'er : Kamu gak tahu sakitnya perasaanku. Kamu gak pernah mengerti seberapa besar luka ini kan?
Sahabat : Kamu gak pernah tahu sakitnya seorang anak yang melihat jenazah orang tuanya didepannya kan? Kamu gak pernah tahu sakitnya seorang cacat saat dianggap sebagai sampah masyarakat kan? Kamu gak pernah tahu sakitnya gelandangan saat melihat orang lain pulang kerumah dan bercanda tawa dengan keluarganya kan? Dan kamu gak pernah tahu sakitnya seorang pria yang terpaksa mencari makan di tong sampah kan? Tapi kamu dengan anehnya merasa sebagai orang paling menderita dan menghujat dunia hanya karena berharap pada seseorang yang sama sekali tidak memberi harapan padamu.
Galau'er : (Terdiam dan mulai menangis) Bantu aku kawan, aku tak tahu aku sebodoh itu.
Sahabat : Kamu bisa bantu dirimu sendiri. Pulanglah, dan kembalikan keceriaanmu di depan keluargamu, dihadapan teman-temanmu, dan dihadapan dunia.
With All of My Respect, RH ArKim.

No comments:

Post a Comment